Senin, 06 Mei 2013

cerpen my friend 3


Aku berlari mencari tempat sembunyi dari kejaran polisi. Ditanganku masih tergenggam sebuah belati panjang untuk tawuran tadi. Aku terus berlari sampai menemukan sebuah masjid kecil. Tanpa berfikir panjang akupun langsung menuju kamar mandi masjid untuk bersembunyi. Aku bertabrakan dengan seorang gadis yang langsung aku dekap dan mengancamnya.
“Diam! Atau ini melukaimu!” bentakku lirih sambil menempelkan belatiku dilehernya. Dia yang tadinya berontak kini berubah diam tak bergerak perlahan-lahan ketakutan.
“Tolong jangan teriak akan aku lepaskan kamu, tapi jangan teriak. Aku gak akan melukaimu. Aku gak mau tertangkap polisi mengerti!” ujarku terengah. Dia mengangguk. Perlahan kulepaskan dekapanku.
“Terimakasih.” Ujarku terengah-engah mengatur nafas.
Dia terlihat ketakutan berdiri dihadapanku.
“Tenanglah ! Jika kamu gak teriak, aku gak akan melukaimu.” Ujarku meyakinkan.
“kamu kenapa dikejar polisi?” tanyanya ketakutan.
“Habis tawuran !”
“Tawuran?”
“Iya!” jawabku.
Sebuah sapu tangan disodorkan kpadaku. Akupun melihat kearahnya kulihat wajah yang tadi ketakutan setengah mati berubah tersenyum meski sedikit ketakutan. Aku bersihkan keringat diwajahku dengan sapu tangan itu.
“Pergilah, tapi tolong jangan bilang siapapun aku di sini!” pintaku. Dia mengangguk sambil berjalan meninggalkanku.
Aku bertahan di tempat ini berharap tak ada yang mencariku. Selang beberapa menit kemudian aku mendengar seseorang melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an. Bergetar hatiku mendengarnya. Entah kenapa suara itu seolah menghipnotisku untuk keluar dari persembunyianku. Belati yang sedari tadi kugenggam erat terjatuh di depan pintu masjid. Pandanganku nanar, kulihat beberapa orang di dalam berlari kearahku hendak menolong.
“Siapa dia? siapa yang melantunkan tadi?” tanyaku lirih dan tak kuingat apalagi yang terjadi. Hanya seluruh tubuhku lemas sekali seolah tubuhku tanpa tulang dan perlahan-lahan menjadi gelap.
Kudengar suara orang-orang memanggil. Perlahan kubuka mataku mencoba melihat keadaan yang panik sepertinya. Kulihat dia terlihat panik disampingku. Aku coba bangkit. Mereka memberi seribu pertanyaan. Namun aku jawab dengan sebuah senyuman kecil tanda jika aku baik-baik saja.


***


“Emm, tadi siapa yang tartil?” tanyaku lirih.
“Kapan?”
“Sebelum aku pingsan.” jawabku mencari penjelasannya. Akupun ikut diam ketika dia tertunduk diam.
“Aku..” jawabnya lirih.
“Nama kamu?”
“Linda.. Marlinda Puspitasari. Kamu?” Terangnya sambil balik bertanya. Aku mengeluarkan dompetku. Kuberikan kartu pelajarku.
“Aji?”
“Namaku biasa dipanggil Gentho.”
Kami sama-sama tersenyum. Lalu terdengar suara perutku yang berisik. Kini kulihat dia tertawa. Akupun tersipu malu. Dia masuk kedalam masjid. Entah berbicara dengan siapa aku tak peduli. Tiba-tiba dia mengajakku keluar masjid. Aku hanya mengikutinya di mana dia berjalan. Entah aku diajak ke mana.
“Kita mau ke mana?” tanyaku. Dia hanya tersenyum.
Disebuah warung bakso Semarang dia mengajakku singgah di sana. Tak kusangka dia mengajakku makan di sana. Kini aku terheran-heran dengan dia. Kami baru saja kenal beberapa jam yang lalu, namun dia sangat baik kepadaku. Seolah sudah mengenalku lama sekali. Namun aku juga merasa nyaman didekatnya. Damai di hatiku sangat damai.Perasaan yang jarang sekali aku rasakan.
Saat selesai makan, aku sodorkan dompetku untuk membayar, namun dia sodorkan kembali dompetku. Aku terperangah melihatnya.
“Aku saja.” Ujarnya pelan sambil berjalan menuju pelayan di depan.


***


“Boleh minta nomor HP mu?” tanyanya kecil. Aku menatap matanya.
“Aku gak punya HP.”
“Besok kita ketemu di masjid tadi aja!” ajakku berharap dia mau.
“Boleh.” jawabnya tersenyum.
Kamipun berpisah, namun aku dan Pita tetap berhubungan baik. Sesekali dia ke markasku atau kami bertemu di masjid awal kami bertemu. Terkadang aku dibuat gelisah olehnya ketika tak ada kabar darinya. Sampai Dimas sahabatku memberiku sebuah handphone. Dia bilang hadiah buat kemenangan balapanku tempo hari. Akupun senang bukan kepalang karena sejak saat itu tak pernah lagi hubungan kami terhalan, bahkan orang tua Pita pun sudah tahu hubungan kami dan mendapat respon baik.
Aku sangat canggung sekali ketika berkunjung di rumahnya. Karena Pita termasuk dari keluarga berada. Tapi karena sambutan orang tua Pita baik. Akupun lebih memberanikan diri meskipun terlihat sangat canggung.


***


Malam dingin menusuk tulang, tapi malam ini aku balapan lagi. Aku sengaja mengajak Pita untuk melihat aksiku menggilas jalanan. Kulihat raut wajah cemas Pita ketika balapan dimulai yang membuat konsentrasiku hilang. Akhirnya aku hanya menjadi yang terakhir. Namun tak mengapa karena balapan ini memang sengaja kulakukan untuk bersenan-senang.
Tiba-tiba Pita datang menghambur dan memelukku.
“Kenapa masih balapan sih?” tanyanya terisak.
“A..Apa? Kenapa?”tanyaku tergagap.
“Kenapa mesti balapan?” tanya lirih sambil memelukku. Kurasakan benar kekhawatirannya kepadaku.
“Apa gak boleh?” tanyaku kecil sambil melepaskan pelukannya.
“Gak suka! Bahaya!” hentaknya manja. Aku hanya tersenyum.
“Ya udah. Ini terakhir. Trus apa lagi yang gak boleh?” tanyaku kecil.
Gak boleh yang bahaya kayak tadi!” jawab Pita ngambek. Kini aku tertawa.
“Malah ketawa!” hentaknya ngambek sambil menamparku pelan.
“Hahaha. Ya udah. Tapi gak semuanya ya. Soalnya aku suka beberapa.” ujarku sedikit meminta keringanan.
“Janji!” ujarnya sambil meminta janji kelingking.
“Janji!” ujarku sambil berjanji kelingking. Dia menggembungkan pipinya supaya biasa. Seperti meletuskan balon. Pita memelukku lagi.
“Tho. Waktunya Lo tampil!” teriak Dimas.
“Lo aja Dim. Gue berhenti!” jawabku sembari melepaskan pelukan Pita.
“Tapi? Tapi?” ucap Dimas tidak percaya. Aku memberi tanda pada Dimas. Mungkin Dimas mengerti maksudku.
“Ah! Gak asik Lo Lin!” ujar Dimas pergi. Kulihat Pita menjulurkan lidahnya mengejek Dimas. Aku hanya tertawa.


Dan mulai saat itu aku tak pernah lagi berhadapan dengan bahaya. Tawuran, Balap liar dan semua hal yang dianggap berbahaya oleh Pita aku hindari. Sejak saat itu juga aku belajar bermain dengan apa yang hampir aku lupakan. Basket dan BMX. Tapi Pita pun memenuhi janjinya juga. Hal lain yang aku sukai tidak dia larang. Itulah yang membuatku lebih menyayanginya. Kepeduliannya, pengertiannya juga ketulusannya mampu benar-benar merubahku. Meskipun aku masih tergolong bengal.
“Nyari apa Pam?” tanya Pita yang melihatku kebingungan.
“Kotak rokokku!” jawabku terus mencari.
“Aku bawa nih!” ujarnya sambil memberikan kotak rokok itu.
“Kok dikamu?”
“Tadi aku sekalian ke warung. Jadi aku bawa.”
“Besok jangan gitu lagi ya!” ujarku memasang wajah galak.
“Kenapa?”
“Aku gak suka!” ucapku pelan tetap memasang wajah marah. Pita tertunduk.
“Iya Pam. Maaf!”
Aku tersenyum melihatnya. Kupeluk erat gadis yang kusayangi itu erat. Hari demi hari berganti kami semakin dekat. Canda tawa menyelimutiku. Ketika bersamanya hingga membuat teman-teman iri.


***
Hariini aku sengaja tidak memberi kabar pada Pita karena malam nanti Pita kekasihku berulang tahun. Aku dankawan-kawan merencanakan pesta ulang tahun untuk Pita. Semua barang-barang yang dibutuhkan sudah dipersiapkan. Sampai malam hari tiba aku pura-pura sakit dan minta Pita ke markas. Sesuai rencana Pita meminta Nana untuk menjemputnya. Nana berdalih pada orang tua Pita untuk menginap di rumahnya karena orang tua Nana sedang tidak ada di rumah.
Pita terkejut mendapat pesta kejutan ini.
“Surprise!” teriak teman-teman tersenyum lebar. Pita hanya diam bengong di depan pintu. Aku mendekati Pita yang tertegun.
“Hadiah pertama!” ujarku tersenyum. Pita masih diam akupun mengajak Pita ke markas belakang.
“Hadiah kedua!” ujarku kecil.
Menunggu beberapa detik. Kembang api bertaburan diangkasa. Menghiasi langit malam ini dengan percikan warnanya.
“Bagus banget Pam.” ujar Pita takjub. Akupun menariknya menuju tempat yang direncanakan sebelumnya.
Sebuah balon udara kecil menanti untuk diterbangkan. Kuberikan secarik kertas dan memintanya menulis harapannya. Kemudian menerbangkan balon udara itu.
“Hadiah ketiga!” ujarku sambil memberikan bunga mawar kepadanya. Pita tersenyum.
“Makasih Pampam!” ujarnya memelukku.


***


Kebahagian terus datang menghampiri geng kami. Touring kebeberapa kota di Jawa tengah untuk berbagi kebahagian dengan mereka yang kekurangan ataupun anak Yatim panti asuhan. Sampai sekedar membantu sesama di mana kami berada terus kami lakukan. Aku dan Pita tetap bersama sampai hari terakhir ku bersama dia.
Dihari ulang tahunku, aku dan Pita berencana bertemu disebuah tempat rahasia untuk merayakannya. Pita yang merencanakan semua itu. Aku hanya mengikutinya. Dan kami sepakat untuk bertemu di depan sebuah rumah makan. Aku menunngu di depan rumah makan itu sendiri berharap Pita datang tidak terlambat. Ketika kegelisahanku hampir memuncak aku melihat Pita diseberang jalan melambaikan tangannya tersenyum. Akupun melambaikan tanganku menyapa. Ketika Pita menyeberang jalan tanpa dia sadari sebuah truk melintas dengan kecepatan penuh.
“Pimpim! Awas!!” teriakku.
Terlambat, truk itu menabrak tubuh kecil Pita hingga terhempas jatuh diseberang jalan. Aku berlari kearah Pita yang bersimbah darah. Tak kupedulikan truk itu berhenti.
“Pita! Beratahan! Kamu kuat!!” sentakku terisak.
“Pam..Pam..Pam. Jangan nangis!” seru Pita lemah.
“Kita ke rumah sakit!” seruku.
Aku menelephone Dimas.
“Dim! Lo di mana? Pita kecelakaan. Cepet ke sini! Kita harus ke rumah sakit sekarang. Gue di depan xxxxx xxxxx.” Ucapku cepat tergagap.
“Ok sob! Gue ke sana! Lo tunggu di situ!” teriak Dimas.
Kulemparkan handphoneku entah ke mana. Yang ada dalam fikiranku hanya Pita harus dibawa ke rumah sakit. Sementara itu, sopir truk dihajar massa diminta untuk bertanggung jawab.
Aku tak peduli dengan mereka. Aku terus menyemangati Pita untuk bertahan. Pita semakin lemah. Meski terisak, aku terus coba menyemangatinya sampai Dimas tiba. Kucoba membantu membopong tubuh Pita dengan beberapa orang. Disaat Pita telah masuk ke dalam mobil. Tubuhku bergetar hebat. Amarahku memuncak tanpa sadar aku mengambil dua bilah belati kecil dibalik ikat pinggangku. Aku berlari mencari sopir truk yang sudah dihajar massa. Seolah ada ledakan ditubuhku yang membuatku kehilangan kendali. Aku membabi buta. Aku hajar sopir truk yang sudah tidak berdaya itu. Sampai beberapa orang yang mencoba menghentikanku juga menjadi korbanku. Aku terus membabi buta dengan belati ditangan. Sangat brutal, hingga akhirnya seorang temanku menarikku dengan kuat sampai aku terpelanting jauh dan sebuah pukulan mendarat diwajahku.
“Sadarlah! Pita harus segera ke rumah sakit!” teriaknya.
Aku sadar akan Pita.
“Terlambat!” ujar Dimas lemas.
“Pita sudah pergi!” ucapnya. Aku terkejut.
“Tidak!!” teriakku menghambur ke Pita.
Kami membawa Pita ke rumah sakit. Dimas menghubungi keluarga Pita di rumah. Mereka terkejut dan langsung menuju rumah sakit. Aku terisak di ruang tunggu. Tak peduli dengan darah yang masih melekat disekujur tubuhku. Aku berharap Pita bisa diselamatkan. Namun tanpa daya. Pita telah pergi selamanya.


Dihari pemakamannya aku melihat dari kejauhan. Tak ingin kuterlihat sedih ataupun bahagia. Dimas menemaniku di samping menjagaku jika terjadi sesuatu kepadaku. Sejak kemarin aku tak makan ataupun minum. Tidur barang sejenakpun tidak. Hanya termenung di depan markas.
Aku terkejut ketika jenazah Pita akan di makamkan di Jakarta. Pita akan di makamkan di Jakarta dekat dengan kakeknya. Kabar yang aku dengar keluarganya juga akan pindah ke Jakarta. Aku hanya mampu melihat keberangkatan mereka tanpa berani mendekat.
***


Aku membuat Nisan kecil untuk mengenangnya di sini. Mengenang masa yang indah bersamanya. Sesekali kujenguk dan membersihkan batu itu. Sampai akhirnya aku lama tidak kesana lagi.
Sekarang hari-hari ceria bersama Pita tiada lagi. Hanya kesepian yang aku rasakan. Namun aku tak ingin terlihat berduka di depan teman-temanku. Tapi mereka merasa jika aku berubah drastis. Lebih banyak diam tanpa melakukan apapun dan aku hanya tetap berusaha tegar.
Hari-hariku berubah. Di sekolah aku hanya mencari pelampiasan dengan murid ataupun guru. Menjadi liar tak terkendali, hanya satu temanku yang sering aku jahili. Anggi yang latah selalu aku buat kaget. Untuk sekedar menghibur diri juga bermain disetiap kesempatan olahraga. Namun tak menghibur diriku. Sampai aku naik kelas aku hanya terus mencari pelampiasan kesepianku. Hingga suatu ketika akumelihat seorang murid baru yang mirip dengan Pita, kekasihku yang telah tiada.

0 komentar:

Posting Komentar