“KISAHCINTAKU 2”
“Ih girang banget sih Lo Ra?” Aurelbertanya.
“Gak apa-apa. Cuma seneng aja.”Jawabku tersenyum.
“Seneng kenapa sayang?” tanya Citrabernada merayu kecil.
“Haha gaya Lo itu, gak banget deh.”Sahutku.
“Gue udah ketemu Rangga.” Hentakku.
“Hah. Serius?” ucap mereka serentaktak percaya.
Aku hanya tersenyum, ku ceritakan awal pertemuanku dengan Rangga.Mereka hanya terbengong-bengong seolah tak percaya. Namun aku tetap bersemangatcerita, bersenandung tentang Rangga. Hari ini kulalui dengan wajah hati ceria.
Bunga Untukmu
Ketika karang terhantam ombak kepedihan
Kokoh berdiri meski bertubi disetiap kosong relungnya.
Seperti aku yang menantimu hadir lagi.
Tetap bertahan dengan sebatang mawar layu ditanganku.
Awan berguling dibiru langit nan cerah.
Bersinar mentari diufuk kabut senja
Layaknya diriku yang kembali tersenyum
Dengan kasih kamu dan kembang yang mati ini.
Aku yang telah mati sehati
Kembali jatuh dan terluka suci
Kan ku sembahkan setangkai harum melati
Meski belum berkembang sekuncup putri
Tiba-tiba Hpku bergetar. Ada BBM masuk pikirku. Benar saja RanggaBBM aku.
[Ra, besok aku pengen ketemu kamu. Ada yang mau aku omongin samakamu]
[di mana Ga?]
[Tempat terakhir kita ketemu dulu]
[OK.] balasanku.
Hatiku berdebar kencang, mungkinkah Rangga mau nyurahin isi hainyake aku? Atau bakal ada kejutan istimewa buat aku? Hatiku bertanya-tanya. Matakutak kunjung terpejam, tetap berangan-angan tentang apa yang akan terjadi. Namunlelahku mengambar jua menuju lelap yang sangat indah. Bermimpi entah apa danapa yang terlibat bunga tidur yang hilang semalam.
Waktu sangat lambat kerasa hari ini seolah menunda-nundakesempatanku bertemu Rangga. Membuat akusudah dikejar waktu untuk cepat menjadi malam.
“Ra, kok Lo ribet banget hari ini?” tanya Citra.
“Hah. Masa?” tanyaku balik terkejut.
“Iya. Lo kayak diuber-uber macan tau Gak?” sambung Aurel.
“Ih. Kejem banget deh. Masa segitunya.” Ujarku mencoba menutupi.
“Ah udah. Yuk kantin.” Ajakku mengalihkan pembicaraan.
“Yuk.” Sahut mereka bergaya lebih manja.
Aku hanya tertawa melihatnya. Kini hal yang aku tunggu akhirnyadatang. Kupersiapkan diriku secantik mungkin. Menggunakan gaun yang terindah.Inginku melihat betapa terkejutnya Rangga nanti.
“Cie. Yang mauu ngedate sama Rangga.” Celetuk Kak Brian.
“Hehe. Cantik gak Kak?” tanyaku meminta pendapat.
“Cantik.. cantik banget.” Ujarnya sambil mengobrak-ngabrikrambutku.
“Ih Kak Brian. Berantakan lagikan.” Ujarku cemberut.
“Hehehe… siap?” tanya Kak Brian
“Belum.. Ni berantakan lagi.” Jawabku emberut.
“Hehehe. Tu si Rangga udah di depan.” Sambungnya.
“Hah… Gue belum siap.” Ucapku terburu-buru.
“Siap!” sambungku, “Dah Kak.” Lanjutku sembari berlari kecil.
“Rangga… Katanya ketemu di sana kok dijemput?” tanyaku
Rangga hanya tersenyum.
“Siap?” tanya Rangga.
“siap!” jawabku sambil tersenyum.
Kamipun meninggalkan rumahku menuju sebuah restoran. Bercandabersama di Taman. Menghabiskan waktu yang amat sangat singkat ini.
“Ra. Tepat di sini kamu dan dia berpisahkan?” tanya Rangga.
“Maksud kamu siapa Ga?” tanyaku heran.
“Dia ninggalin kamu. Tepat jam segini di tempat ini dan di hariyang sama inikan?” ujarnya mengulas.
“Ga. Kamu ngomong apa sih?” tanyaku berkerut kening.
“Waktu itu dia sakit. Amat parah, dia sekarat, tapi dia Gak maukamu tau itu.” Lanjutnya.
Kini aku hanya diam. Seolah ingin mendengarkan apa yang diaceritakan.
“Surat ini akan jelasin semuanya.” Sambungnya sambil memberikansepucuk surat kepadaku.
“Ini dari siapa Ga?” tanyaku heran.
“Baca aja.” Ujarnya lirih.
Senja yang redup mengujung sukmaku
Dibalik bintang hitam mata gelapku
Akulah rindu sang purnama cantik
Yang menangis berderai mutiara
Seberkas senyum untukku hidup
Meski mati raga dan memburu
Hati suci tetap memilikimu.
Ra, walaupun aku Gak ada disampingmu aku ada di hati kecilmu.Maafin aku. Mulailah hidup yang baru tanpaku. Aku sayang kamu Ra.
“Gak..gak mungkin, Ga ini bohongkan?” tanyaku gemeteran.
“Gak ada kebohongan Ra. Aku bukan Rangga. Aku bukan Rangga.”Jawabnya.
“Aku Sony. Adik Rangga.” Sambungnya lagi.
“Gak mungkin! Lo Rangga Lo pasti Rangga.” Hentakku penuh keyakinanhati.
“Mas Rangga udah meninggal 6 bulan yang lalu.” Ujarnya.
“Gue gak percaya! Ga, please jangan main-main. Ini gak lucu Ga.”Teriakku menangis. Kupeluk entah siapa dia. Namun bagiku dia Rangga.
“Maaf Ra. Tapi ini kenyataan. Aku Sony bukan Rangga.” Ujar Sonylirih.
“Bohong!” jawabku menangis lebih dalam.
“Kalau gitu mungkin ini bisa jadi bukti lain.” Ujarnya sambilmengeluarkan sesuatu di sakunya.
“Memory?” tanyaku heran masih terisak.
“Buka aja.” Ujarnya hambar.
Tanpa berfikir panjang aku buka Hpku kulepas memory Hpku dankupasang memory yang diberikannya. Ada 4 video didalamnya.
“Gak..gak mungkin.” Teriakku tak percya.
“Ini kenyataannya.” Sambungnya menenangkanku.
“Tapi ini bohongkan?” sahutku tetap tak percaya.
“Maaf Ra.” Ucapku lirih.
“Sebelum meninggal, Mas Rangga nitipin ini buat kamu.” Lanjutnyasembari memberikan diary Rangga.
Kini aku diam selama waktu berjalan. Meski terisak-isak. Kini akubenar-benar tak mampu membendung kesedihanku bersama jatuhnya rintik hujan.Kujatuhkan tetesan air mata yang kelamtanpa keindahan.
Diary kecil Rangga. Semua isi hati yang dia curahkan di dalam tiaplembar kertas diary ini. Aku genggam erat.
“Ra.. Kita pulang.” Ajak Sony.
“Aku mau di sini bentar.” Ujarku lerih.
“Sony diam. Kucoba menenangkan diriku sejenak tak kusangka. Orangyang kusangka Rangga bukanlah Rangga yang aku nanti selama ini dan semakindalam perihnya hatiku ketika dia bilang Rangga meninggal. Kepedeihanku kini takmungkin lagi tertutup senyum. Aku seakan telah mati.
“Rara keluar Nak. Makan dulu sayang.” Bujuk Ibuku.
Aku diam mengurung diri di kamar. Menangis meratapi kesedihanku.Hatiku enah berapa lama aku memenjarakan diri degan air mata.
“Ra. Ini Gue. Abang Lo Brain.” Ucap Kak Brian di depan kamar.
“DUAKK.” Suara pintu di dobrak paksa oleh seseorang. Kini takkudengar lagi suara-suara, pandanganku nanar. Tubuhku limbung. Selang beberapadetik aku tak sadarkan diri. Entah apa yang terjadi.
“Ra..Ra!” teriak seseorang.
‘Sayang.. Bangun Nak!” teriak ibuku.
Kurasa diriku terlalu lemah untuk bergerak. Namun kucoba untukmembuka mataku terus ku berusaha tersenyum meski sakit dan hambar yangterkembang. Demi kelegaan hati keluargaku.
Malam ini kubuka tiap lembar kertas diary Rangga. Tk bisa kubendungairlir setiap kubaca isi hat mataku terus mengi Rangga. Rangga ternyata sangatmenyayangiku. Semua isi diarynya berisi tentangku. Tak terbendung jua sakitbatinku kini ingin rasanya ku jemput Rangga. Menyelesaikan hidupku dengan caraapapun. Aku sangat tersiksa jatuh. Hatiku hancur.
Arti Suci
Bukan bintang yang kuminta.
Meski dengan air mata mutiarakaih.
Hanya kamu cahayaku cinta ini.
Dengan sucinya hati yang terluka jiwa.
Aku mati jua menantimu luka.
Hanya air mengalir di ujung sembiliku.
Sebuah belati kusir menantiku kini.
Dewa maut siap menebaskan taringnya.
Dalam sakitku yang terluka Duka.
Ajal hanya sampiran duniaku kini.
Dimanakah kan kutemui lagi tawamu.
Mendapat sejuknya tawa hari bersama hati.
Yang terindah dalam nafas kecilku.
Hanya kamu pangeranku yang mati.
Kan kutemui dirimu bintang
Walau harus menjadi dirimu jua.
Kugoreskan sebening kaca. Mencoba menemui cintaku di alam sana.Tetes demi tetes darah dinadiku jatuh membasahi jejak lantai. Lemah dan semakinlemah diriku. Maafkan aku ayah,ibu. Cintaku pergi bersama ragaku. Ku inginmenemui Rangga. Kekasih yang sangat kucinta. Indahnya dunia ini tak seindahketika bersama Rangga. Biarlah kunikmati akhir hidupku ini. Cinta yang butakanseluruh diriku. Kupejamkan mataku yang berat dengan nafas terakhir yang kuhembuskan.
“Ketika cinta membubarkan hati dan mata seluruh dunia ini, serasatak berarti. Menjaga cinta tak seperti menjaga hati. Kasih yang mati. Nuraniyang tersayat. Cinta untuk kebutaan hati.”
0 komentar:
Posting Komentar